NTB Pastikan Distribusi Ternak 2026 Lebih Terorganisir, Antisipasi Penumpukan di Pelabuhan

NTB Pastikan Distribusi Ternak 2026 Lebih Terorganisir, Antisipasi Penumpukan di Pelabuhan
Pemprov NTB memastikan proses distribusi ternak tahun ini dinilai jauh lebih tertata, terkendali, dan efektif.

MATARAM – balinusra.com | Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB), menegaskan bahwa sistem tata kelola pengiriman ternak sapi menuju wilayah Jabodetabek pada tahun 2026 menunjukkan kemajuan yang signifikan. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, proses distribusi ternak tahun ini dinilai jauh lebih tertata, terkendali, dan efektif.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Pemprov NTB sekaligus Kepala Dinas Kominfotik, Dr. H. Ahsanul Khalik (Aka), guna mengklarifikasi kabar miring mengenai kendala distribusi di Pelabuhan Gili Mas.

Menurutnya, perbaikan sistem yang dilakukan pemerintah saat ini berhasil memitigasi persoalan mendasar yang kerap muncul di masa lalu.

Langkah Strategis Pemprov NTB dalam Distribusi Ternak

Untuk menjaga kelancaran arus logistik, Pemprov NTB telah menerapkan sejumlah langkah antisipatif sejak dini yang meliputi pembentukan satgas terpadu melalui Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1-127 Tahun 2026. Satgas khusus dibentuk dengan melibatkan lintas instansi dan asosiasi peternak.

Kemudian, pengaturan jadwal ketat, yang mana penerbitan sertifikat veteriner dan izin pengiriman dilakukan secara terjadwal. Hal ini untuk mencegah penumpukan kendaraan di waktu yang sama.

Selain itu, pemerintah membatasi pengiriman maksimal 20 truk atau tronton per kabupaten/kota setiap harinya, dengan menyesuaikan kapasitas kapal yang tersedia.

Pemprov NTB juga menyiapkan tenaga dokter hewan untuk menjamin kesehatan ternak. Serta bekerja sama dengan BPBD dan Karantina untuk penyediaan air minum di area tunggu.

Selain pembenahan internal, Pemprov NTB telah berkomunikasi secara resmi dengan Kementerian Perhubungan RI untuk meminta penambahan armada kapal di Pelabuhan Lembar dan Gili Mas. Pemerintah juga mendorong optimalisasi jalur Tol Laut melalui Pelabuhan Bima untuk memecah kepadatan.

Meskipun penambahan armada dari pusat belum sepenuhnya maksimal, Aka memastikan pengaturan di tingkat daerah tetap berjalan kondusif. Distribusi ternak sejauh ini aman dan tidak memberikan dampak negatif yang berarti bagi para peternak lokal.

“Alhamdulillah, kolaborasi semua pihak membuat pengiriman tetap lancar. Ini adalah bukti bahwa sistem distribusi kita sudah berada pada jalur yang tepat untuk memperkuat posisi NTB sebagai lumbung ternak nasional yang andal,” katanya, Rabu (15/4/2026).

NTB sebagai Lumbung Ternak Nasional

Sebagai salah satu penyokong kebutuhan hewan kurban nasional, NTB memegang peran krusial. Setiap menjelang Hari Raya Iduladha, volume pengiriman hewan dari Bumi Gora ini mencapai angka 20.000 ekor ke wilayah Jabodetabek.

“Secara umum, lalu lintas ternak tahun ini justru mengalami perbaikan yang sangat signifikan. Kami memastikan sistem pengaturan berjalan efektif,” terang Aka.

Lanjutnya menjelaskan, isu penumpukan di pelabuhan merupakan tantangan klasik akibat keterbatasan armada kapal pengangkut truk dan tronton.

Namun, pada tahun 2026, situasi tersebut dipicu oleh momentum yang bersamaan antara musim pengiriman ternak dengan masa panen raya jagung di NTB.

“Kepadatan yang terjadi bukan indikasi kegagalan sistem, melainkan dampak dari pertemuan dua arus logistik besar. Yaitu hewan ternak dan hasil pertanian di titik yang sama,” pungkasnya. Baiq