Bali Siaga Kekeringan Ekstrem, Fenomena El Nino Kuat Diprediksi Bertahan hingga Oktober 2026

Bali Siaga Kekeringan Ekstrem, Fenomena El Nino Kuat Diprediksi Bertahan hingga Oktober 2026
BBMKG Wilayah III keluarkan peringatan dini terkait kondisi iklim di Bali yang diprediksi akan memasuki musim kemarau lebih awal pada tahun 2026.

BADUNG – balinusra.com | Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III mengeluarkan peringatan dini terkait kondisi iklim di Bali yang diprediksi akan memasuki musim kemarau lebih awal pada tahun 2026. Kondisi tersebut dipicu oleh fenomena El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, musim kemarau kali ini diperkirakan bersifat di bawah normal atau jauh lebih kering dengan durasi yang lebih panjang.

Fenomena ini menjadi perhatian serius otoritas setempat, mengingat adanya potensi kekeringan ekstrem yang dapat berdampak luas pada stabilitas lingkungan dan ekonomi masyarakat di Pulau Dewata.

Prediksi Fenomena El Nino Kuat

Prakirawan BBMKG Wilayah III, Lia Cahyani menjelaskan, anomali cuaca ini dipicu oleh fenomena El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat yang diprediksi akan berlangsung dari April sampai Oktober 2026.

“El Nino sendiri ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut yang drastis di Samudra Pasifik ekuator. Kondisi tersebut menyebabkan peralihan massa udara, yang pada akhirnya memicu pengurangan curah hujan secara signifikan di wilayah Indonesia. Termasuk Bali yang kini berada di garis depan terdampak suhu panas tersebut,” ungkapnya, Selasa (31/3/2026).

Lia Cahyani menambahkan, dampak dari fenomena ini diperkirakan akan mencapai puncaknya pada Agustus 2026, di mana risiko kekeringan meteorologis akan berada pada level tertinggi.

Ia menekankan bahwa kondisi tersebut tidak hanya sekadar cuaca panas biasa. Tetapi ini ancaman nyata terhadap ketersediaan air bersih di berbagai kabupaten/kota di Bali.

“Selain krisis air, sektor pertanian juga menjadi yang paling rentan terdampak akibat kegagalan panen. Serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di area-area yang memiliki vegetasi kering,” kata Lia Cahyani.

Imbauan BMKG untuk Masyarakat dan Pemerintah

Menanggapi situasi tersebut, BBMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk segera melakukan langkah mitigasi sejak dini. Upaya prioritas yang harus dilakukan adalah penghematan penggunaan air secara ketat. Serta pemanenan air hujan yang masih tersisa sebelum memasuki puncak kemarau.

Langkah antisipasi ini sangat penting untuk menjaga ketersediaan cadangan air. Khususnya bagi daerah-daerah yang secara historis memang rawan mengalami kekeringan dan krisis air bersih saat musim kemarau.

Masyarakat juga diminta untuk tetap waspada dan memantau perkembangan informasi cuaca secara berkala melalui saluran resmi BMKG.

Dengan adanya prediksi kemarau ekstrem ini, kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan. Sekaligus menghindari aktivitas yang memicu percikan api di lahan terbuka menjadi kunci utama dalam meminimalisir kerugian materiil maupun bencana ekologis selama periode El Nino berlangsung hingga akhir tahun nanti. Baiq