Hutan Mangrove Batu Lumbang Terkepung Sampah Plastik, Relawan Bali Angkut Ratusan Kilogram Limbah

Hutan Mangrove Batu Lumbang Terkepung Sampah Plastik, Relawan Bali Angkut Ratusan Kilogram Limbah
Tumpukan sampah plastik mengancam ekosistem pesisir Pantai Batu Lumbang. Komunitas Gagasan Pemuda Bali bersama relawan Social Project Bali menggelar aksi bersih-bersih di kawasan hutan mangrove. Foto: Istimewa

DENPASAR – balinusra.com | Kondisi pesisir Pantai Batu Lumbang kembali menjadi sorotan tajam akibat tumpukan sampah plastik yang mengancam ekosistem. Merespons situasi ini, komunitas Gagasan Pemuda Bali bersinergi dengan relawan Social Project Bali menggelar aksi bersih-bersih di kawasan hutan mangrove tersebut sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan.

Gerakan ini tidak hanya fokus pada pembersihan fisik, tetapi juga membawa misi edukasi bagi masyarakat pesisir. Para relawan terjun langsung berinteraksi dengan nelayan lokal untuk menanamkan kesadaran, bahwa kelestarian hutan bakau adalah kunci utama perlindungan daratan dari abrasi sekaligus habitat vital bagi biota laut.

Ancaman Sampah Plastik Sekali Pakai terhadap Benteng Pesisir

Relawan dari Social Project Bali, Habiba Nabila Zahro menegaskan, ekosistem mangrove saat ini berada dalam kondisi kritis. Menurutnya, hutan bakau yang seharusnya menjadi benteng pertahanan terakhir pesisir kini justru “tercekik” oleh polusi plastik.

“Pemandangan hijau yang asri kini ternoda oleh sampah kemasan makanan dan minuman sekali pakai yang tersangkut di akar napas mangrove. Fenomena ini membuktikan bahwa gaya hidup konsumtif masyarakat masih menjadi faktor utama kerusakan alam di Bali,” ujar Habiba.

Proses pembersihan di lapangan menghadapi tantangan berat. Para relawan harus bermanuver menggunakan kano karena kondisi air yang sedang pasang. Sehingga sampah yang melilit di dahan dan akar sulit dijangkau.

Berdasarkan pengalaman ini, disarankan agar aksi serupa di masa mendatang dilakukan saat air surut demi efektivitas dan keamanan personel.

Habiba juga menyoroti limbah yang menumpuk di Batu Lumbang tidak hanya berasal dari aktivitas warga sekitar. Sebagian besar merupakan sampah kiriman yang hanyut dari sungai menuju muara.

“Plastik yang dibuang ke sungai tidak akan hilang, melainkan hanya berpindah tempat dan berakumulasi di mangrove, merusak rumah bagi berbagai jenis ikan serta kepiting,” tambahnya.

Mendesak Agenda Rutin Bulanan demi Keberlanjutan

Dalam aksi singkat tersebut, tim berhasil mengevakuasi sebanyak 553 kilogram sampah. Namun, angka fantastis ini dinilai hanya sebagian kecil dari total tumpukan sampah yang masih tertinggal di luasnya hutan mangrove Denpasar.

Kondisi ini memicu desakan dari para aktivis agar kegiatan bersih-bersih tidak lagi hanya menjadi seremoni tahunan.

Beberapa poin penting yang ditekankan adalah mengubah aksi bersih-bersih menjadi program bulanan untuk menjaga daya dukung lingkungan. Masyarakat diimbau lebih bijak dalam penggunaan plastik sekali pakai dan berhenti membuang sampah ke aliran sungai.

Hal itu karena keberlanjutan ekosistem pesisir Bali sangat bergantung pada kesadaran kolektif masyarakat untuk mulai bergerak menjaga alam demi masa depan.

Melalui gerakan ini, pemuda Bali mengirimkan pesan kuat bahwa upaya pembersihan semasif apa pun akan sia-sia jika sumber polusi dari hulu tidak segera dihentikan. Baiq