DENPASAR – balinusra.com | Coop Coffee Foundation resmi meluncurkan inisiatif edukasi eksklusif bertajuk program TEMAN Kopi. Program ini ditujukan khusus bagi kelompok penyandang disabilitas. Kegiatan tersebut fokus pada pemberian pemahaman mendalam mengenai rantai pasok kopi. Serta implementasi ekonomi sirkuler melalui pemanfaatan limbah kopi.
Pelatihan merangkul peserta dari berbagai latar belakang, termasuk penyandang disabilitas netra, tuli, daksa, hingga penyintas skizofrenia. Para peserta diajarkan untuk memahami seluruh proses industry. Mulai dari tahap produksi awal hingga cara mengolah ampas kopi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation, Sascha Poespo menegaskan, wawasan mengenai dunia kopi seharusnya bersifat inklusif.
Menurutnya, pengetahuan ini tidak hanya milik generasi muda atau penikmat kopi semata, tetapi juga harus menjangkau kelompok disabilitas.
“Kami ingin mereka memahami proses panjang dan cerita di balik setiap cangkir kopi yang selama ini masyarakat nikmati,” ujar Sascha, Jumat (7/3/2026).
Program TEMAN Kopi dari Coop Coffee Foundation di Bali
Momentum kegiatan ini juga dirasa tepat karena berdekatan dengan Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret, sebagai simbol penguatan nilai pemberdayaan.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta mempelajari berbagai tahapan krusial produksi, seperti pemetikan buah kopi, proses pemilahan biji dan penjemuran. Serta teknik roasting (sangrai) untuk menentukan profil rasa.
Selain proses teknis, program TEMAN Kopi juga menyoroti pentingnya menjaga lingkungan melalui ekonomi sirkuler.
Sascha menjelaskan, limbah seperti kulit buah dan ampas kopi dapat diolah kembali menjadi pupuk organik. Hal ini membuktikan bahwa penyandang disabilitas memiliki peluang yang setara untuk berkontribusi dalam setiap lini produksi kopi.
Tantangan Regenerasi Petani Kopi di Indonesia
Di sisi lain, Sascha mengungkapkan kekhawatirannya terhadap penurunan minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian kopi. Saat ini, banyak anak muda lebih memilih berkarier di bidang pariwisata atau perhotelan.
Padahal, Indonesia merupakan salah satu dari lima produsen kopi terbesar di dunia dengan potensi alam yang melimpah.
“Menjaga agar tradisi bertani kopi tetap berlanjut dari generasi ke generasi adalah tantangan besar bagi kami,” tambahnya.
Guna mewujudkan rantai pasok kopi yang berkelanjutan, Coop Coffee Foundation bersinergi dengan UID Foundation. Termasuk dengan berbagai mitra lokal dan internasional.
Kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari komitmen yang bermula sejak Tri Hita Karana Global Forum pada G20 di Bali tahun 2022.
Kerja sama strategis fokus pada pengembangan model rantai pasok kopi di kawasan Kintamani, Bali, dengan mengusung agenda besar seperti net zero emission, pemberdayaan perempuan tani. Serta integrasi kelompok disabilitas dalam industri kopi yang ramah lingkungan. Baiq





