DENPASAR, balinusra.com – Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menghadiri prosesi sakral Pemelaspasan Candi Bentar, Penyengker Setra, serta Jembatan Ring Pura Kahyangan Dalem di Desa Adat Penatih pada Selasa (17/2/2026).
Upacara ini menjadi simbol penyucian sekaligus penguatan fungsi kawasan setra sebagai ruang suci yang fundamental bagi masyarakat adat setempat.
Dalam kegiatan tersebut, Wali Kota Jaya Negara didampingi oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Anggota DPRD Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, Anggota DPRD Kota Denpasar, I Ketut Budha. Serta jajaran pejabat Pemkot Denpasar lainnya.
Sebagai bagian dari ritual, Jaya Negara melakukan prosesi mendem Panca Datu, menandatangani prasasti, dan meninjau langsung fasilitas yang baru saja dipelaspas.
Wali Kota Jaya Negara memberikan pujian tinggi kepada krama Desa Adat Penatih. Menurutnya, keberhasilan pembangunan fisik ini merupakan bukti nyata kuatnya semangat gotong royong masyarakat, meski di tengah keterbatasan anggaran bantuan dari pemerintah.
“Saya berharap setelah upacara melaspas ini, Candi Bentar dan penyengker setra dapat difungsikan secara maksimal untuk melayani kebutuhan adat masyarakat. Terutama dalam prosesi upacara kematian dan kegiatan suci lainnya,” ungkap Jaya Negara dalam sambutannya.
Sementara itu, Jro Bendesa Desa Adat Penatih, I Wayan Eka Yana, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian acara ini telah direncanakan secara mendalam, baik secara sekala (fisik) maupun niskala (spiritual).
Sebelum pemelaspasan, warga telah melakukan pekeling untuk menegaskan batas ruang suci. Serta menghaturkan Banten Guru Piduka sebagai bentuk permohonan izin kepada Sang Pencipta.
Eka Yana juga menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan Pemerintah Kota Denpasar. Ia menegaskan, bantuan yang diberikan bukan sekadar materi, melainkan wujud nyata komitmen pemerintah dalam menjaga warisan tradisi dan budaya Bali.
“Kami bersyukur atas keberkahan dari alam semesta, sehingga seluruh rangkaian upacara berlangsung dengan khidmat dan tertib,” tambahnya.
Tidak hanya fokus pada bangunan fisik, kegiatan ini juga diisi dengan penanaman berbagai pohon langka. Seperti pohon dadap wong, kepah, pole, celagi, timbul, dan biyu akah.
Penanaman ini mengusung filosofi Taru Premana, yang melambangkan perlindungan, kesucian, dan keberlanjutan hidup.
Langkah tersebut mencerminkan ajaran untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan sekitar.
“Kami berharap apa yang kita tanam dan bangun hari ini membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Serta memperkuat semangat kita dalam menjaga kesucian tempat suci yang kita miliki,” tutup Eka Yana. rl/Baiq












