Pameran Tunggal Made Romi, Suguhkan 24 Karya Lukis

IMG_20260109_181232

DENPASAR – balinusra.com | Pelukis I Made Romi Sukadana resmi membuka pameran tunggalnya bertajuk “DIVERGENT MIND” di Santrian Gallery, Sanur, pada Jumat (9/1/2026). Sebanyak 24 karya dipamerkan dalam ajang yang berlangsung hingga 28 Februari mendatang.

Kurator pameran, I Made Susanta Dwitanaya, mengungkapkan bahwa pameran ini merupakan bentuk tantangan terhadap cara pandang umum yang menuntut seniman memiliki gaya visual stabil dan linier. Romi justru memilih jalur berbeda dengan menampilkan karya-karya yang dinamis dan penuh kejutan. “Bagi Romi, identitas artistik bukanlah sesuatu yang membeku, melainkan proses yang terus bergerak,” jelasnya.

Tema “Divergent Mind” diangkat dari konsep psikologi kreativitas milik J.P. Guilford tentang kemampuan menghasilkan banyak kemungkinan ide tanpa terpaku pada satu solusi final. Susanta menilai Romi memiliki karakter fluency, flexibility, originality, dan elaboration. Keempat unsur ini membuat karya-karyanya kaya akan detail dan memiliki lompatan pendekatan yang berani.
​Dalam proses kreatifnya, Romi disebut telah mencapai kondisi flow atau larut sepenuhnya dalam aktivitas kreatif berdasarkan intuisi.

Pada titik ini, melukis bukan lagi sekadar mengikuti rencana rasional, melainkan dialog spontan antara pengalaman batin dan medium kanvas. Hal ini menjadikan karyanya sebagai rekaman jujur dari gejolak pikiran sang seniman.

Menariknya, perbedaan gaya antar karya dalam pameran ini tidak dapat dikategorikan secara kronologis atau periodisasi konvensional. Romi seolah menolak logika sejarah seni modern yang mengedepankan progresivitas linier. Baginya, setiap karya adalah negosiasi baru terhadap diri sendiri, bukan sekadar pengulangan formula yang sudah dianggap mapan secara pasar atau akademik.

Dilihat dari perspektif sosiologi Pierre Bourdieu, praktik artistik Romi dianggap sebagai strategi diferensiasi yang cair di tengah medan seni rupa. Ia tidak tunduk pada tekanan untuk memiliki “ciri khas” tunggal demi legitimasi. Sebaliknya, ia memilih menjadi agen kreatif yang merundingkan posisinya melalui keberagaman visual yang terus berubah.

​Senada dengan pemikiran Stuart Hall, identitas dalam pameran ini dimaknai sebagai sesuatu yang sedang “menjadi” (becoming). Romi membuktikan bahwa ketiadaan satu gaya tunggal bukan berarti kehilangan identitas, melainkan sebuah sikap kritis. Ia menolak pembekuan karakter artistik dan lebih memilih mengejar kebebasan berpikir selama proses melukis berlangsung.

Bagi Romi, melukis adalah modus berpikir yang sejalan dengan gagasan John Dewey tentang seni sebagai pengalaman (art as experience). Setiap goresan kuas merupakan hasil interaksi mendalam antara subjek, medium, dan respons terhadap konteks sosial. Kanvas-kanvas di Santrian Gallery pun bertransformasi menjadi ruang uji coba dan arena eksperimentasi yang sangat personal.

Pengunjung pameran diajak untuk menggeser cara membaca karya seni, dari mencari keseragaman menuju pemahaman atas kontradiksi. Perbedaan gaya dalam pameran ini ditegaskan bukan sebagai kegagalan koherensi, melainkan sebagai manifestasi kemerdekaan berpikir. Romi memegang otoritas penuh atas setiap pilihan estetik yang ia ambil tanpa rasa takut akan ketidakpastian.

Pihak Santrian Gallery yang diwakili Made Dolar Astawa menyatakan dukungannya terhadap keberagaman ekspresi ini. Galeri ini berkomitmen terus menyediakan ruang bagi seniman Nusantara untuk menumbuhkembangkan seni rupa secara luas. “Melalui pameran ini, diharapkan vitalitas kreatif seniman Bali terus berkembang dan memberikan warna baru bagi publik luas,” tutupnya. Red

TERP HP-01