DENPASAR – balinusra.com | Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan mengungkapkan, angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi (Dikti) di Indonesia masih rendah sekitar 35 persen.
Padahal menurutnya APK berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan penduduk tiap negara. Faktor biaya disinyalir menjadi penyebab utama masyarakat enggan kuliah atau menempuh pendidikan tinggi.
Untuk itu, ITB STIKOM Bali menawarkan beragam solusi. Pertama dengan memanfaatkan KIP Kuliah dari pemerintah pusat. Kedua, untuk di Bali, Pemprov menyediakan Program Satu Keluarga Satu Sarjana.
Kemudian, masyarakat juga bisa memanfaatkan beasiswa dari Yayasan Widya Dharma Shanti selaku badan hukum penyelenggara pendidikan ITB STIKOM Bali.
Solusi terakhir, yang menurut dia paling keren yakni kuliah sambil magang/kerja ke luar negeri. “Solusi ini ada di ITB STIKOM Bali,” jelas Dr. Dadang di sela melepas tiga mahasiswa magang ke Jepang, Rabu (7/1/2026) di Kampus ITB STIKOM Renon.
Menurut Dr. Dadang, dunia saat ini sedang menghadapi era VUCA; Volatility yakni perubahan yang cepat dan terus menerus, Urcentainty yakni masa depan yang sulit diprediksi, Complexity, artinya banyaknya faktor kunci dalam pengambilan keputusan serta Ambiguity, yakni ketidakjelasan kausalitas maupun korelasi dalam suatu situasi.
Tantangan-tantangan tersebut, masih menurut Dr. Dadang, bisa diatasi dengan meningkatkan pendidikan masyarakat, minimal jenjang sarjana. Terkait program kuliah sambil magang ke Jepang, kampusnya telah memberangkatkan ratusan mahasiswa melalui program magang luar negeri sebagai bagian dari penguatan kompetensi dan pengalaman global mahasiswa.
Adapun tiga mahasiswa akan diberangkatkan ke Osaka, Jepang bulan ini, di antaranya Tarsisius Danrianus Tupen, Ni Kadek Anita Setyari dan Ni Made Ratih Purwasih.
Tarsisius Tupen mengungkapkan, program ini sangat membantu karena saya bisa tetap kuliah sambil bekerja. “Orang tua ingin saya kuliah, sementara biaya pendidikan cukup besar. Dengan program ini, keduanya bisa berjalan,” ujar Tupen.
Ia dijadwalkan berangkat ke Jepang pada 12 Januari 2025 untuk menjalani magang di bidang finishing furnitur pada salah satu perusahaan di Jepang. Dia berharap program tersebut dapat dimanfaatkan oleh calon mahasiswa lain yang memiliki keinginan kuliah namun terkendala biaya. Baiq












