BADUNG – balinusra.com | Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) menggelar Wisuda ke-99 pada Senin (3/11/2025) di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC). Wisuda kali ini menjadi momen istimewa karena dihadiri langsung oleh Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia, Meutya Viada Hafid.
Dalam orasi ilmiahnya, Meutya menegaskan bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bukan satu-satunya indikator keberhasilan lulusan perguruan tinggi. Lulusan, katanya, justru dituntut untuk adaptif terhadap perubahan kehidupan, teknologi, dan lingkungan.
“Adaptasi sangat diperlukan untuk merespon paradigma digital yang berkembang sangat pesat. Terlebih Indonesia memegang peran penting dalam pergerakan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara,” jelas Meutya.
Ia menambahkan, perkembangan paradigma digital saat ini akan mengubah lanskap pasar kerja global. Mengacu pada data World Economic Forum, pada tahun 2030 dunia akan menciptakan 170 juta lapangan kerja baru. Namun, di sisi lain, sekitar 92 juta pekerjaan akan tergantikan akibat otomatisasi dan digitalisasi.
Menyikapi hal itu, Menkomdigi mengajak lulusan perguruan tinggi untuk menguasai teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Nilai transaksi ekonomi digital Indonesia saat ini mencapai 90 miliar dolar AS dan diproyeksikan meningkat hingga 360 miliar dolar AS pada tahun 2030. Potensi tersebut terutama bersumber dari sektor e-commerce (perdagangan digital), transportasi daring, dan media online.
“Ini bukan hitungan Kementerian Komunikasi dan Digital, ini hitungan dari banyak lembaga, baik nasional maupun internasional,” tegas Meutya.
“Kalau dari $90 miliar di tahun 2030 kita menjadi $360 miliar, maka saya ingin lulusan dari Undiknas yang saya temui hari ini terlibat untuk mewujudkan angka $360 miliar itu,” imbuhnya memotivasi.
Ia juga berpandangan bahwa masih banyak orang yang belum meyakini bahwa kecerdasan buatan pada akhirnya akan menciptakan net gain atau net positive dalam menciptakan lapangan pekerjaan.
Senada dengan Menkomdigi, Rektor Undiknas University, Prof. Dr. Ir. Nyoman Sri Subawa, ST., S.Sos., MM., IPM., ASEAN.Eng., menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai langkah agar lulusan Undiknas adaptif dan siap diterima di dunia industri dan usaha.
Menurutnya, Undiknas telah mengantisipasi perkembangan teknologi jauh sebelum lahirnya era kecerdasan buatan. Salah satu implementasinya adalah penerapan smart classroom atau ruang kuliah berbasis teknologi.
Kelas berbasis teknologi tersebut bahkan telah diterapkan sebelum pandemi Covid-19. Karena itu, saat pandemi terjadi, Undiknas tidak mengalami kesulitan dalam melaksanakan perkuliahan daring.
Prof. Sri Subawa memastikan bahwa 166 wisudawan Undiknas, 90 wisudawan Sekolah Tinggi Farmasi Mahaganesha, dan 28 insinyur yang dilepas pada kesempatan tersebut telah dibekali ilmu dan kemampuan berwirausaha. Semua itu sejalan dengan semangat “Kampus Berdampak” yang digulirkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI.
Diakuinya, pendidikan tinggi di Indonesia kini sedang mengalami transformasi signifikan, yang mencakup peningkatan digitalisasi, kolaborasi lintas disiplin ilmu, dan penguatan ekosistem inovasi.
Ia menambahkan, Undiknas bukan hanya tempat untuk belajar dan melakukan penelitian, tetapi juga sumber inspirasi dan pencarian solusi bagi masyarakat.
“Kepada adik-adik, saudara wisudawan/wisudawati, kami ucapkan selamat dan sukses. Ingat ini bukan akhir, melainkan awal perjuangan saudara dalam memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat luas,” jelasnya.
Rektor juga meyakini bahwa kehadiran Menteri Meutya menjadi suplemen luar biasa bagi para lulusan Undiknas, sehingga mereka lebih percaya diri menghadapi kompetisi dunia kerja. Ia pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran Menteri Komdigi dalam acara tersebut. Baiq





