Memetik Hikmah dari Bencana Banjir Gung Ari Dwipayana Ajak “Tandur Toya”

Ari Dwipayana
AAGN Ari Dwipayana. Foto : Dokumen

DENPASAR – balinusra.com | Tokoh masyarakat Bali AAGN Ari Dwipayana, menyampaikan duka cita yg mendalam pada keluarga korban meninggal saat terjadinya bencana Banjir serta rasa solidaritas- simpati pada keluarga korban yg masih belum ditemukan.
Gung Ari, sapaanya, berpendapat, saat ini yang perlu menjadi prioritas Gubernur Bali dan Bupati-Walikota di wilayah terdampak banjir adalah menjalankan aksi tanggap darurat: mulai dari suplai logistik pada rumah tangga terdampak, evakuasi korban yang rumahnya masih terendam banjir, menemukan korban yang hanyut dan juga menjamin keselamatan warga jika ada banjir susulan.

Gung Ari yang juga Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud ini, melanjutkan, tahap berikutnya adalah pemulihan sosial- ekonomi terutama pada rehabilitasi pasar2 tradisional yang terkena banjir, membantu perbaikan rumah tempat usaha yang terdampak dan juga perbaikan infrastruktur publik yang rusak akibat banjir.

“Tapi, yang juga harus diingat oleh Gubernur Bali adalah langkah-langkah konkret mitigasi bencana, agar peristiwa jatuhnya korban jiwa dan kerusakan fasilitas umum dan pribadi akibat banjir tidak terulang lagi di masa yang akan datang. Jangan hanya menyalahkan curah hujan yang tinggi,” kata dia mengingatkan.

Ia menegaskan, saatnya kepala daerah di Bali “mulat sarira”. Evaluasi terhadap kebijakan dan tatakelola mitigasi risiko bencana banjir, seperti: evaluasi terhadap kebijakan tata ruang, evaluasi kebijakan perijinan di area resapan air dan juga evaluasi tata kelola di Daerah aliran sungai.

“Evaluasi itu penting agar kerusakan ekologis tidak berjalan semakin masif dan berdampak pada bencana yang lebih besar dikemudian hari. Jangan hanya menjadikan Nangun Sad Kerti Loka Bali sebagai slogan tanpa tindakan nyata,” ujarnya.

Gung Ari juga mengajak warga Bali untuk melakukan gerakan tandur toya: menanam air dengan menjaga, memperbanyak dan memperluas area resapan air. Dalam konteks ini, Gunung dan hutan di wilayah hulu harus dijaga sebagai area resapan air yang penting.

“Karena itu kita harus terapkan Sad Kertih: terutama Wana Kertih, Giri Kertih dan Ranu Kertih bukan semata mata ritual tapi aksi nyata untuk menjaga area resapan air. Selain itu Bali juga punya 4 Danau sebagai bendungan raksasa. Danau juga harus dijaga bukan hanya dengan ritual Ranu Kertih tapi menjaga 4 danau ini dari sidementasi dan polusi/pencemaran,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia mengajak pemerintah dan warga Bali mulat sarira dengan “Nyapuh Tirah Tukad”. Menjaga sungai sebagai badan-badan air agar tidak mengalami kerusakan ekologis. Kata dia, banyak teks sastra dalam agama Hindu Bali yang menyebutkan bahwa manusia harus memuliakan-mensucikan sungai.

Air (toya) yg mengalir di sungai, sarwa prani yg mendiami sungai termasuk mahluk-mahluk halus seperti Tonya/Gamang sebagai penjaga sungai juga harus dijaga dan dimuliakan, dikasi ruang hidup, tidak ditimbun dengan sampah serta sepadannya dihabisi/dikonversi/alih fungsi menjadi villa dan pemukiman. *

TERP HP-01