DENPASAR – balinursa.com | “Bhaerawa itu bukan aliran, melainkan ajaran.” Penegasan Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti tersebut menjadi salah satu sorotan dalam sesi bincang penulis (greet and meet) Gebyar Literasi 2nd Kota Denpasar di Ruang Audio Visual Gedung Dharma Negara Alaya, Sabtu (3/10/2026).
Ida Dukuh Celagi, penulis buku Bhaerawa Jnana, meluruskan stigma yang selama ini melekat terhadap Bhaerawa yang kerap dipahami sebagai ajaran mistis, seram, bahkan destruktif.
Menurutnya, filosofi tengkorak dan kuburan dalam Bhaerawa Jnana justru mengandung simbol meditasi mendalam untuk mematikan ketakutan, ilusi atau keterikatan, serta ego dalam diri manusia.
“Tengkorak pertama adalah simbol mematikan ketakutan, tengkorak kedua mematikan ilusi atau keterikatan, dan tengkorak ketiga adalah mematikan ego,” jelasnya.
Menurut Ida Pandita Dukuh Celagi, pemahaman terhadap ajaran spiritual semestinya tidak berhenti pada simbol maupun ritual. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun keharmonisan keluarga dan hubungan sosial.
Ia mencontohkan penerapan pematahan ego melalui metode penglukatan harmonisasi rumah tangga di padukuhannya. Dalam metode tersebut, pasangan suami istri diajak saling mencuci kaki dan memohon maaf. Praktik itu menjadi sarana untuk menundukkan ego masing-masing demi terciptanya kerukunan dalam keluarga.
Pemikiran tersebut dibahas bersama ajaran Buddha Sesana dalam forum bertema “Keseimbangan Spiritual & Ketenangan Batin melalui Ajaran Bhaerawa dan Buddha Sesana”. Kegiatan yang digagas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar itu menghadirkan tiga tokoh spiritual Bali untuk membedah ajaran Bhaerawa, Buddhisme Mahayana, hingga Vajrayana melalui karya-karya buku mereka.
Selain Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti, forum tersebut menghadirkan Jero Gede Aksobhya yang membawakan materi dari buku Sutra Maha Aksobhya serta Ida Bhagawan Ratna Bumi Dharma Kirti yang mengupas buku Sutra Maha Amitabha.
Jero Gede Aksobhya menyoroti pentingnya keteguhan hati dan ketenangan batin dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Menurutnya, keteguhan bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami ujian, tetapi kemampuan untuk menjadikan setiap guncangan sebagai pondasi membangun pendirian yang kokoh.
“Dalam ajaran Aksobhya, kita diajak tidak terguncang oleh kemarahan dan perubahan zaman, melainkan mampu mengendalikan kesadaran itu sendiri. Pengetahuan setinggi apa pun tidak akan ada nilainya jika tidak diimplementasikan langsung dalam perilaku hidup bermasyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ida Bhagawan Ratna Bumi Dharma Kirti menguraikan perjalanan spiritualnya ketika berada di titik nadir kehidupan akibat himpitan ekonomi dan kemerosotan moral pada era Zaman Kali. Dalam kondisi tersebut, petuah dari guru spiritualnya, “Jangan putus asa, Nak,” menjadi pemantik kebangkitan batinnya.
Ia kemudian menguraikan konsep jiriki, yakni kekuatan ego pribadi, dan tariki, yakni kekuatan kasih di luar diri. Menurutnya, manusia kerap mengalami keputusasaan ketika kekuatan pribadi tidak lagi mampu mengejar ambisi material.
Dalam kondisi tersebut, ajaran Buddha Amitabha menawarkan jalan pembebasan melalui kasih sayang tanpa batas. “Sang Hyang Amitabha diposisikan sebagai cahaya agung tanpa batas yang tidak pernah memilih, menghakimi, atau menuntut kesempurnaan manusia. Beliau menerima siapapun apa adanya,” ungkap Ida Bhagawan.
Ia menambahkan, menjadi manusia merupakan berkah utama karena manusia memiliki kemampuan membedakan baik dan buruk serta mengubah perbuatan masa lalu menjadi kebaikan.
Di sisi lain, moderator diskusi Jero Mangku Ketut Suryadi mengatakan, penulisan buku-buku yang dibahas dalam forum tersebut merupakan wujud nyata Jnana Yajna atau pengorbanan suci dalam bentuk pembagian ilmu pengetahuan.
Ketua Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa itu menilai gerakan tersebut penting untuk membuka paradigma baru di tengah masyarakat Bali agar pemahaman terhadap agama tidak hanya berfokus pada ranah ritual.
“Kita ingin membuka pembelajaran dengan menulis buku. Sebagaimana pesan pendiri bangsa Bung Hatta, buku adalah sumber energi dan kebebasan bagi mereka yang haus akan ilmu. Melalui karya tulis, para narasumber menunjukkan kemuliaan dengan membagikan pencerahan yang dapat dibaca dan dihayati oleh segenap umat,” ujarnya.
Melalui forum tersebut, aktivitas membaca dan membedah buku diarahkan tidak hanya sebagai upaya memperoleh pengetahuan kognitif. Literasi juga ditempatkan sebagai ruang refleksi untuk memahami nilai spiritual dan menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Diskusi berlangsung interaktif dan diikuti peserta dari berbagai kalangan, mulai akademisi, mahasiswa S3, pengacara, ibu rumah tangga, hingga praktisi budaya. Sejumlah persoalan turut dibahas, seperti fenomena hegemoni upacara keagamaan, simbolisasi Barong dan Rangda, hingga teknik meditasi untuk melepaskan kemelekatan ego di tengah kompleksitas kehidupan modern.
Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, para narasumber menekankan bahwa pelaksanaan yadnya hendaknya didasari keikhlasan, tuntunan sastra, serta disesuaikan dengan kemampuan sehingga tidak menjadi beban batin. Dalam kehidupan beragama di masyarakat, pelaksanaannya juga perlu dilandasi kesepakatan bersama.
Kepala Bidang Bina Program Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Denpasar, Ni Putu Ayu Ningsih, mengapresiasi produktivitas para tokoh agama yang tetap meluangkan waktu menulis di tengah kesibukan melayani umat.
Pada kesempatan tersebut, Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa juga menyerahkan tiga buku yang dibahas dalam sesi bincang penulis secara gratis kepada peserta yang aktif mengajukan pertanyaan. (*)





