DENPASAR – balinusra.com | Rahina Purnama Kapat menjadi salah satu hari istimewa bagi keluarga besar Perkumpulan Pendidikan Nasional (Perdiknas). Selain menjadi momentum persembahyangan, purnama pada Sasih Kapat dimaknai sebagai waktu untuk menyucikan diri sekaligus merefleksikan perjalanan pendidikan.
Purnama Kapat dipilih sebagai piodalan di lingkungan parhyangan Perdiknas yang meliputi Pura Padmasana Perdiknas, SMP Nasional Denpasar dan SMK Teknologi Nasional Denpasar.
Piodalan berlangsung di Pura Padmasana SMK Teknologi Nasional Denpasar. Sementara, SMP Nasional Denpasar melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Padmasana Perdiknas.
Piodalan dipuput oleh Ida Pedanda Sakti Telaga Mas. Seluruh keluarga besar Perdiknas yang beragama Hindu, termasuk pimpinan dan dosen Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), turut hadir dalam persembahyangan dengan khusyuk.
Momen Purnama Sasih Kapat diyakini sebagai waktu payogan atau pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk menyucikan diri dari kegelapan (awidya) menuju kesadaran suci (widya).
Sasih Kapat atau bulan Kartika juga dipandang sebagai bulan keseimbangan. Periode ini menjadi masa peralihan dari musim kemarau menuju awal musim penghujan, ketika bunga-bunga mulai bermekaran.
Bagi umat Hindu, piodalan menjadi sarana memohon ketenangan batin, keselamatan dan kesejahteraan. Momentum ini sekaligus memperkuat keharmonisan spiritual serta rasa persaudaraan antarsesama.
Ketua Perdiknas Denpasar, Dr. AAN. Eddy Supriyadinata Gorda, mengatakan bulan purnama tidak semata-mata dimaknai sebagai puncak pencapaian, tetapi juga menjadi ruang untuk berhenti sejenak dan melihat kembali arah yang ingin dituju.
Menurutnya, filosofi tersebut juga relevan dengan dunia pendidikan yang membutuhkan momentum untuk melakukan refleksi terhadap berbagai hal yang telah maupun belum dicapai.
“Bulan tidak mampu menghasilkan cahaya sendiri. Guru juga serupa, ia bukan sumber kebenaran, tapi memantulkan potensi yg sudah ada pada murid,” ucap ESG saat ditemui usai piodalan.
Menurutnya, piodalan juga menjadi momentum untuk memanjatkan rasa syukur atas perolehan peserta didik baru di SMP Nasional Denpasar, SMK Teknologi Nasional Denpasar, serta Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas).
Perolehan peserta didik baru tersebut dinilai cukup untuk menjadi modal Perdiknas terus berproses di tengah persaingan dengan perguruan tinggi negeri (PTN).
Serangkaian piodalan ini sekaligus menjadi momentum mengimplementasikan filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga hubungan harmonis dengan Tuhan, sesama manusia dan alam lingkungan.
Sisya Upanayana Sambut Siswa Baru SMK Teknas
Secara bersamaan, piodalan juga dilaksanakan di Pura Padmasana SMK Teknologi Nasional Denpasar. Rangkaian upacara tersebut sekaligus diisi prosesi Sisya Upanayana sebagai bagian dari penyambutan dan pengesahan peserta didik kelas 10 secara sekala dan niskala.
Kepala SMK Teknas, Dr. Ni Wayan Parwati Asih, S.Pd., M.Pd., mengatakan upacara tersebut menjadi wujud penyucian spiritual bagi siswa baru sekaligus menandai kesiapan mereka menerima ilmu pengetahuan secara resmi di sekolah.
“Upacara ini juga sebagai pengembangan karakter serta menandai resminya siswa baru sebagai warga di SMK Teknas Denpasar,” ujarnya.
Rangkaian upacara diawali dengan ngayah sehari sebelumnya untuk mempersiapkan piodalan pada Rahina Purnama Kapat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembersihan area sekolah serta nunas tirta ke sejumlah pura di lingkungan Panjer, Denpasar.
Menurut Agek, Purnama Kapat merupakan hari suci bagi umat Hindu yang kerap dijadikan sebagai pujawali atau piodalan di sejumlah pura di Bali.
Selain itu, Rahina Purnama Kapat menjadi momentum penting bagi warga sekolah untuk mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan SMK Teknas selama ini.





