Penjualan Eceran Bali Tetap Kuat di Agustus 2026 Didorong Peak Season Pariwisata

Penjualan Eceran Bali Tetap Kuat di Agustus 2026 Didorong Peak Season Pariwisata
Kinerja penjualan eceran di Bali diperkirakan tetap kuat pada Agustus 2026 dengan IPR 129,2.

DENPASAR – balinusra.com | Kinerja penjualan eceran di Provinsi Bali tetap mencatatkan tren positif pada periode Juli hingga Agustus 2026. Kondisi ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali pada Juli 2026 yang berada di level 128,6 atau tumbuh 1,7 persen (mtm). Serta tetap bertahan pada zona optimis (indeks >100).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani menjelaskan, peningkatan kinerja ritel pada Juli 2026 ditopang oleh pertumbuhan di beberapa kelompok komoditas utama.

Kenaikan tertinggi dicatatkan oleh kategori sandang sebesar 7,9 persen (mtm). Disusul makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,9 persen (mtm). Serta barang budaya dan rekreasi sebesar 3,5 persen (mtm).

“Penguatan tersebut mencerminkan tetap kuatnya permintaan ritel pada periode libur sekolah. Serta meningkatnya aktivitas pariwisata Bali yang memasuki periode peak season. Kinerja penjualan eceran yang tetap kuat juga sejalan dengan membaiknya fundamental perekonomian Bali,” terangnya.

Kinerja sektor ritel ini diperkuat oleh kondisi makroekonomi daerah yang solid. Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tercatat mencapai 5,78 persen (yoy). Didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan sektor pariwisata.

Di samping itu, inflasi Juli 2026 terjaga melandai di angka 2,42 persen (yoy), sehingga daya beli masyarakat tetap terlindungi.

Proyeksi IPR Agustus 2026 dan Dampak Puncak Pariwisata

Aktivitas pariwisata Bali yang memasuki periode puncak kunjungan (peak season) pada Juli–September 2026 terus menjadi motor penggerak utama konsumsi rumah tangga. Momentum positif ini diprakirakan berlanjut pada bulan berikutnya.

IPR Agustus 2026 diprakirakan naik menjadi 129,2 (tumbuh 0,5 persen mtm). Peningkatan penjualan tersebut ditopang oleh kategori bahan bakar kendaraan bermotor, barang budaya dan rekreasi. Serta suku cadang dan aksesori.

“Perkembangan tersebut terutama didukung oleh berlanjutnya aktivitas pariwisata selama periode peak season, meningkatnya mobilitas masyarakat pada momentum Hari Kemerdekaan RI. Serta tingginya kegiatan sosial dan adat yang mendorong permintaan berbagai komoditas ritel,” kata Achris.

Ekspektasi Harga dan Optimisme Dunia Usaha

Dari sisi perkembangan harga, Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk tiga bulan mendatang (Oktober 2026), dan enam bulan mendatang (Januari 2027) masing-masing berada pada level 198 dan 2003.

Meskipun inflasi Agustus 2026 berada pada tingkat 3,45 persen (yoy), angka tersebut masih aman berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional.

Optimisme pelaku usaha di Bali juga berada di level positif (indeks >100). Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk tiga bulan mendatang tercatat sebesar 180, sedangkan IEP untuk enam bulan mendatang tercatat sebesar 188. Keyakinan ini didukung oleh penyaluran kredit Lapangan Usaha Perdagangan yang tumbuh 1,86 persen (yoy) hingga Juli 2026.

Strategi Pengendalian Inflasi dan Sinergi Daerah

Untuk menjaga momentum pertumbuhan perekonomian yang inklusif, Bank Indonesia Provinsi Bali memperkuat kolaborasi bersama Pemerintah Daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Serta Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED).

Langkah pengendalian terus difokuskan pada penerapan strategi 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Melalui implementasi strategi tersebut, inflasi daerah diharapkan tetap terkendali. Sehingga momentum konsumsi masyarakat dan pertumbuhan ekonomi Bali dapat terjaga secara berkelanjutan. Baiq