Forum Balinomics 2026: Strategi Bank Indonesia dan Pemprov Akselerasi Ekonomi Kerthi Bali

Balinomics 2026 Strategi Bank Indonesia dan Pemprov Akselerasi Ekonomi Kerthi Bali
Bank Indonesia secara resmi menggelar Forum Balinomics 2026 di Padma Resort Legian Bali pada Rabu (9/9).

DENPASAR – balinusra.com | Bank Indonesia secara resmi menggelar Forum Balinomics 2026 di Padma Resort Legian Bali pada Rabu (9/9). Acara ini mengusung tema “Menjaga Stabilitas dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Bali untuk Akselerasi Ekonomi Kerthi Bali” dengan merangkul unsur pemerintah daerah, otoritas moneter, akademisi, perbankan, asosiasi industri, pelaku UMKM, hingga Majelis Desa Adat.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Bali Triwulan II-2026 dari Bank Indonesia kepada Pemerintah Provinsi Bali. Sekaligus penyaluran bantuan sarana dan prasarana pertanian serta perikanan bagi kelompok subak dan nelayan lokal.

Penyerahan laporan dan bantuan ini merupakan bagian dari advisory Bank Indonesia, juga wujud dukungan terhadap penguatan sektor pertanian dan perikanan di Bali.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani mengatakan, perekonomian Bali pada Triwulan II-2026 menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan mencapai 5,78 persen (yoy), berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, inflasi Bali pada Agustus 2026 tercatat terjaga sebesar 3,45 persen (yoy) dalam kisaran sasaran untuk menopang daya beli masyarakat dan pertumbuhan daerah.

Tantangan Fundamental dan Transformasi 6 Sektor Unggulan

Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi Bali tetap tumbuh kuat pada kisaran 5,4 hingga 5,9 persen. Namun, terdapat dua tantangan fundamental yang perlu mendapat perhatian bersama. Yakni ketergantungan sektoral yang masih terkonsentrasi pada sektor tersier (khususnya pariwisata). Serta konsentrasi investasi dan aktivitas ekonomi yang masih didominasi wilayah Bali Selatan atau Sarbagia.

Mewakili Gubernur Bali, Koordinator Kelompok Ahli Bidang Pembangunan Pemprov Bali, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S., menegaskan arah Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Perda Nomor 4 Tahun 2023 dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Transformasi ekonomi pascapandemi Covid-19 membutuhkan keterhubungan enam sektor unggulan, yaitu pertanian dalam arti luas. Kelautan dan perikanan, industri manufaktur, IKM/UMKM dan koperasi, ekonomi kreatif dan digital, serta pariwisata.

“Yang dibangun bukan sekadar diversifikasi sektor. Tetapi keterhubungan antar sektor,” terangnya.

8 Langkah Cepat (Quick Wins) Mendorong Ekonomi Bali

Forum Balinomics 2026 turut menghadirkan Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, Direktur PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) Aradhita Priyanti. Serta Ketua BPD PHRI Bali sekaligus Wakil Gubernur Bali periode 2018-2023, Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace).

Josua Pardede menyoroti dinamika global. Seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga minyak, avtur. Serta mobilitas penerbangan internasional.

Ia mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II-2026 banyak ditopang oleh konsumsi pemerintah dan proyek konstruksi. Sementara sektor transportasi dan pergudangan sempat mengalami kontraksi.

Untuk mengatasi hambatan dalam belanja dan investasi, Josua merekomendasikan delapan langkah cepat (quick wins):

  1. Front-loading belanja modal APBD dan DAK fisik.
  2. Optimalisasi SILPA.
  3. Perluasan mitigasi El Nino di sektor pertanian.
  4. Operasi pasar dan penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD).
  5. Diplomasi untuk membuka kapasitas rute penerbangan alternatif.
  6. Perluasan penyaluran KUR ke sektor primer minimal 30 persen.
  7. Penyiapan pipeline 10 proyek investasi di luar Bali Selatan.
  8. Peningkatan kepatuhan Pungutan Wisatawan Asing (PWA). Sserta penguatan peran LPD dan Desa Adat sebagai ujung tombak distribusi program MBG, KDMP, dan KUR.

Josua juga mengingatkan pentingnya menekan economic leakage atau kebocoran nilai tambah ekonomi yang keluar dari Bali.

Dukungan Pembiayaan Berkelanjutan dan Paradigma Baru Pariwisata

Dari sisi pembiayaan, Direktur PT SMI Aradhita Priyanti memaparkan kesiapan PT SMI dalam mendukung pembiayaan daerah melalui skema pinjaman publik, pembiayaan Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Serta jasa konsultasi dan penyiapan proyek (project development).

Pembiayaan PT SMI menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) secara ketat guna memastikan proyek selaras dengan keberlanjutan lingkungan hidup.

Sementara itu, Cok Ace mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengubah paradigma pembangunan pariwisata daerah. Dalam forum tersebut, Cok Ace mengajak seluruh pemangku kepentingan mengubah paradigma pembangunan pariwisata menjadi “Pariwisata untuk Bali, bukan Bali untuk pariwisata”.

Ia menilai pengembangan pariwisata Bali perlu memperhatikan daya dukung lingkungan (carrying capacity). Termasuk penanganan persoalan sampah secara terpadu seperti melalui proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).

Selain itu, rantai pasok lokal perlu diperkuat agar kebutuhan hotel dan restoran semakin banyak menyerap hasil pertanian dan produk UMKM Bali.

Cok Ace menekankan bahwa transformasi ekonomi Bali harus berjalan serentak melalui tiga pilar. Kebijakan yang terkoordinasi dan tata ruang yang berakar pada budaya. Pelaku usaha berorientasi pada nilai (value), bukan sekadar volume.

Masyarakat dan Desa Adat menjadi subjek aktif pembangunan. Melalui Forum Balinomics 2026, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan menegaskan komitmen untuk memperkuat sinergi lintas sektor.

Harmonisasi kebijakan dan konsistensi implementasi di lapangan menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah. Sekaligus mewujudkan pertumbuhan ekonomi Bali yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Baiq